1. Awal Perjalanan
2. Fasilitas & Suasana
3. Tes Pertama: Pancake/Nastar Durian
4. Tes Kedua: Durian Fresh
5. Drama Durian Kulkas 3 Hari
6. Kesimpulan & Tips
7. Penilaian Akhir
Perjalanan saya dari Hoejan Rasa masih hangat di perut. Mobil sudah diarahkan pulang, tapi hidup memang suka memberi side quest tak terduga. Dari sisi Boulevard, ada banner durian nongol seperti notifikasi WA yang bikin penasaran. Nama tempatnya: Rodjo Duren Kelapa Gading.
| Si kuning penggoda: Nastar durian Rodjo Duren yang punya aroma mentega kuat, namun rasa duriannya masih "malu-malu" |
Lokasinya tepat di jalur pulang. Jujur saja, rasanya seperti dia sedang manggil-manggil saya, “Mampir dulu, cuma bentar kok.” Ya sudahlah, saya nurut. Misi kecil dimulai: cek apakah durian di sini benar selevel rumor dan... sekalian ingin coba produk olahannya yang sering disebut “nastar durian” atau pancake durian itu.
Kenyamanan Fasilitas: Makan Duren Tanpa Keringatan
Begitu masuk, saya suka langsung sama fasilitasnya. Area indoor ber-AC, bersih, dan tertata rapi. Ini penting, karena makan durian itu kegiatan yang memanaskan badan. Kalau tempatnya panas juga, kepala bisa ikut mendidih. Untungnya di sini adem.
Aromanya jelas durian banget, tapi sirkulasi udaranya cukup baik, tidak bikin pengap. Cocok kalau bawa keluarga yang tidak semuanya pencinta durian hardcore. Kursinya banyak, ruangnya lapang, dan suara “plek!” saat durian dibuka jadi soundtrack alami. Saya sempat melihat bapak-bapak yang mukanya serius banget, ekspresinya seperti sedang milih masa depan, padahal cuma milih durian.
Tes Pertama: Nastar/Pancake Durian Rodjo Duren
Saya mulai investigasi dari produk olahannya. Di depan mata, ada “nastar durian” dalam wadah transparan. Tampilannya cakep, warna kuning keemasan hasil olesan telur, cukup menggoda.
Saat tutup dibuka, saya otomatis refleks tarik napas... dan justru mencium aroma mentega serta adonan panggang. Wangi duriannya? Minimalis sekali. Persis seperti buka toples nastar Lebaran.
| Tampilan lebih dekat si "nastar durian". Dari luar terlihat sangat menggoda dengan tekstur yang "crumbly", meskipun secara rasa, adonan tepungnya masih jauh lebih dominan dibanding duriannya. |
Gigitan pertama bikin saya mengangguk pelan. Teksturnya kering, karena dipanggang. Tapi tidak sampai seret yang bikin nyari minum. Masih ada sisa kelembapan lembut dari isian. Masalahnya cuma satu: duriannya tenggelam. Rasa tepung dari kulit kue terlalu dominan, sementara duriannya cuma hadir sebagai suara latar belakang.
Kadar manisnya juga sangat rendah. Di satu sisi, ini ideal buat yang sedang diet atau butuh camilan aman untuk gula darah. Di sisi lain, untuk saya yang berharap ada ledakan rasa durian... rasanya seperti kopi tanpa kafein. Ada, tapi kurang greget.
Kesimpulan singkat untuk menu ini: enak sebagai oleh-oleh ringan, bukan untuk pemuja durian garis keras.
Tes Kedua: Kembali ke Fitrah — Durian Fresh
Setelah sedikit zonk dari nastar, saya balik ke jalur aman: durian fresh. Mas-mas penjaga ngasih saya satu yang katanya “manis creamy, cocok, Pak.” Saya percaya saja.
Momen pembelahan durian itu selalu dramatis. Begitu kebuka, warnanya kuning pekat, aromanya nyeletuk penuh percaya diri, dan jujur saja... saya sudah merasa berdosa kalau sampai durian ini tidak enak.
Dan benar: gigitan pertama langsung menghapus kekecewaan sebelumnya. Creamy, lumer, manisnya tepat dan wangi duriannya memenuhi rongga mulut. Jomplang sekali kalau dibandingkan nastar versi panggang tadi. Ini level “balik ke jalan yang benar.”
Secara harga? Ya, standar Kelapa Gading. Premium tapi masih manusiawi. Nilai tambahnya: ada garansi. Kalau dapat durian yang hambar atau rusak, tinggal bilang, mereka ganti. Dunia perdurianan jarang ada pelayanan setulus itu.
TIGA HARI KEMUDIAN: Drama Durian Kulkas
Saya bawa pulang beberapa kotak untuk orang rumah. Keputusan yang awalnya saya kira bijak.
Tiga hari kemudian, saya buka kulkas dengan niat mulia: menikmati durian dingin. Angin kulkas menyapa muka, tapi aroma durian langsung menyerang penuh wibawa. Saya ambil kotak, duduk, makan... dan berhenti.
| Penampakan durian setelah 3 hari "bertapa" di kulkas. Pelajaran penting: jangan simpan terlalu lama dan hati-hati, bagian terbaik biasanya rawan disikat orang rumah duluan! |
Ini durian setengah matang. Teksturnya masih ada keras-keras pemalu, manisnya nanggung. Saya langsung curiga.
Saya tanya orang rumah, “Enak nggak durian kemarin?” Jawaban mereka terlalu cepat: “Enak banget! Manis! Lembut!”
Saya tanya lagi, “Hah? Kemakan berapa?” Dan pengakuan dosa muncul: Ada yang makan dua porsi, tiga porsi, bahkan ada yang pura-pura lupa. Rupanya bagian terbaik sudah habis duluan.
| Enak,gurih dan bijinya kecil dibanding isinya. Sayang ini versi terakhir yang masih setengah matang |
Saya cuma dapat sisa bagian yang masih 'remaja'. Kesimpulan waktu itu: saya korban terakhir.
Kesimpulan & Tips
Rodjo Duren Kelapa Gading adalah tempat matang secara fasilitas: nyaman, bersih, adem, dan pelayanan gesit. Durian fresh-nya juara. Nastar/pancake duriannya cocok untuk oleh-oleh, bukan untuk yang cari durian “nendang”.
- Kalau bawa pulang, tandai jatah kamu. Jangan percaya sistem kekeluargaan.
- Jangan simpan lebih dari dua hari. Durian berubah karakter cepat sekali.
- Datang jangan terlalu malam. Pilihan buahnya lebih cantik.
- Fokuslah ke durian fresh untuk kepuasan maksimal.
Jadi, kalau kamu mau “mabuk durian” dengan nyaman, Kelapa Gading sudah menunggu. Hanya satu pesan saya: amankan bagianmu sebelum direbut semesta.
Penilaian Akhir
| Kualitas Durian Fresh | 8.8/10 |
| Nastar/Pancake Durian | 6.5/10 |
| Pelayanan | 9/10 |
| Suasana & Fasilitas | 9/10 |
| Revisit? | Ya. Untuk durian fresh-nya. |
Komentar
Posting Komentar