Blogger Jurnal Rasa (BJR)

Cari

Perjalanan Rasa Jelajah kali ini mampir ke sebuah tempat yang namanya saja sudah memberikan peringatan dini: Ichung Bukan Kopitiam. Sebuah nama yang seolah-olah ingin menepis ekspektasi kita tentang kedai kopi peranakan konvensional pada umumnya. Dari segi fasilitas, tempat ini sebenarnya digarap dengan sangat niat dan profesional.

foto Review Ichung Bukan Kopitiam: Rasa Sultan, Porsi 'Minimalis', dan Misteri Haus Berjamaah

Mulai dari koneksi WiFi yang kencang, tempat cuci tangan yang higienis, toilet bersih, hingga pembagian ruang no-smoking dan area parkir yang sangat layak. Semuanya tersedia dengan kondisi yang sangat memadai. Namun, apakah kenyamanan fisik ini sebanding dengan kenyamanan dompet kita? Mari kita bedah lebih dalam kuliner di kawasan Sunter ini.

Fasilitas pendukung di ichung bukan kopitiam

Ketegasan Staf dan Manajemen Antrean yang Jempolan

Ada pemandangan menarik saat saya menunggu pesanan. Seorang tamu baru datang dan langsung ingin menyerobot duduk di ruang no-smoking—gaya klasik "siapa cepat dia dapat". Namun, staf wanita di sana dengan sigap dan tetap ramah langsung menegur agar tamu tersebut mengantre sesuai urutan. Ketegasan manajemen seperti ini patut diapresiasi demi kenyamanan pelanggan setia.

foto suasana ramai dan wajib antri jika ingin makan di ichung bukan kopitiam

Wawancara Eksklusif Bersama Sang 'Investor'

Setelah makan selesai, saya mencoba mewawancarai teman saya, si A, yang hari itu bertindak sebagai "investor" (yang bayar tagihan). Jawabannya jujur banget: "Enak sih, tapi porsinya sedikit. Malah ada satu menu yang isinya sebagian besar cuma tulang. Udah gitu harganya belum termasuk pajak (PB1 10% dan Service Charge 5%). Gua nggak mau ke sana lagi!"

Total tagihan 4 orang saat bayar di ichung bukan kopitiam

Misteri Nasi Samcan dan Fenomena 'Menahan Haus'

Saya sempat mencicipi Nasi Samcan (Rp68.000) secara take away. Kuahnya memang enak dan kaldunya nendang. Namun, porsinya memang sangat "minimalis" untuk harga segitu. Fenomena "menahan haus" pun terjadi karena harga minuman di sini sukses bikin kita mikir dua kali antara dahaga atau saldo rekening.


Strategi Bertahan Hidup: Teh Tawar Refill adalah Kunci

Satu gelas Teh Tawar (Refill) di sini harganya Rp12.000. Selisih 10 ribu dari warteg mungkin untuk biaya 'kursi empuk' dan AC. Dengan tambahan pajak 15%, ini adalah minuman elit. Refill adalah satu-satunya "jalan ninja" agar tidak dehidrasi sambil meratapi tagihan akhir yang mencapai hampir setengah juta rupiah.

Pesanan makan di tempat untuk 3 orang

Kesimpulan: Ichung Bukan Kopitiam adalah tempat bagi Anda yang mengutamakan rasa dan kenyamanan fasilitas, namun pastikan Anda bukan tipe orang yang hobi komplain soal porsi dan harga es teh yang 'tidak ramah kantong'.

Setelah puas menikmati rasa premium namun harus sedikit menahan napas saat melihat tagihan, mungkin Anda butuh rekomendasi kuliner yang lebih ramah di kantong sebagai penyeimbang. Simak ulasan saya sebelumnya tentang Sop dan soto Betawi Bang Udin agar saldo rekening Anda kembali stabil!

Komentar

Jurnal Rasa Mendatang

30 Menu Sahur yang Sehat dan Praktis untuk 1 Bulan: Resep, Tips, dan Persiapan Anti Ribet

Kalau ada momen di bulan Ramadhan yang rasanya seperti lomba sprint saat otak masih di mode buffering, itu adalah sahur. Mata masih berat, langkah masih menyerupai zombie menuju dapur, sementara jam dinding terus berdetak mendekati imsak. Saya tahu rasanya—berpacu dengan waktu demi memastikan keluarga mendapat asupan terbaik sebelum beribadah. Memasak sahur tidak perlu ribet. Yang penting keluarga dapat makanan bergizi sebelum memulai hari. Foto: Rene Terp / Pexels 📘 NAVIGASI CEPAT 30 MENU SAHUR 🌅 Minggu 1: Menu Praktis & Penambah Energi (Hari 1-10) 🥗 Minggu 2: Variasi Sayur & Protein (Hari 11-20) 🍱 Minggu 3: Cepat Saji & Penutup Ramadhan (Hari 21-30) ✨ Tips & Penutup