Blogger Jurnal Rasa (BJR)

Cari

Halo semuanya yang lagi baca tulisan ini, sebelumnya perkenalkan aku warga Jakarta. Rencananya malam tahun baru 2025 ke Bandung. Nah, sebelum menuju "medan perang", kebiasaan lama saya terpicu otomatis, yakni mencari lokasi yang akan didatangi dan kabar terbaru yang mungkin aku lewatkan.

Ilustrasi ai Rencana Malam Tahun Baru di Bandung Tapi Takut Dompet Kempes Kena Parkir Liar
Gambar di atas merupakan ilustrasi yang dihasilkan oleh AI untuk memberikan gambaran suasana malam tahun baru di Bandung.

Aku nih sebagai penghuni Jakarta, rasanya tiap hari udah hafal luar kepala sama macet di tempat dan polusi asap hitam kendaraan yang tidak terawat. Nah, pilihan ke kota Bandung itu selain puncak (Bogor) selalu jadi tempat pelarian favorit gue, mungkin untuk penghuni Jakarta dan sekitarnya. Alasannya – udara sejuk, kuliner yang sudah pasti enak, dan vibes estetik.

Rencana udah matang banget: malam Tahun Baru 2026, gue mau gas pol ke Paris van Java bareng keluarga. Sebelum berangkatpun, aku tuh udah bayangin makan batagor panas-panas sambil ujan gerimis, hirup udara Lembang yang mudah-mudahan masih ada sisa segarnya, terus foto-foto santai di Asia Afrika atau Braga yang kece abis. Udah mirip sutradara mau buat skenario film banget lah.

Sidak Wali Kota Farhan: Realita di Balik Gemerlap Asia Afrika

Pagi ini buka berita, eh niat gue langsung agak goyang. Baru aja ada sidak langsung dari Wali Kota Bandung, Pak Muhammad Farhan, tanggal 25 Desember 2025 malam di kawasan Asia Afrika. Yang bikin aku kaget, Beliau turun gunung sendiri (jarang banget loh ada sosok penting mau repot gini). Hasilnya, Beliau dapat bukti nyata dan nemuin ratusan motor parkir liar di trotoar depan Gedung Merdeka. Yang lebih horornya ada pungli tanpa karcis.

Sidak ini jelas bukan omon omon versi netizen yang gaduh di media sosial. Beliau bilang, ini 100% ilegal, uangnya disita, oknumnya bisa kena pidana ringan (tipiring). Wah, selamat datang di Bandung, ya? Di sini parkir kadang lebih mahal daripada seblak extra pedas plus topping lengkap.

Aku yang statusnya sebagai calon tamu dari Jakarta yang ga pake level sultan langsung mikir: apa perlu siapin budget tak terduga ya, "Dana Darurat Jukir Liar"? Apalagi baru baca berita terbaru, Pak Wali Kota prediksi Desember ini aja bisa ada lebih dari 1 juta wisatawan nyerbu Bandung, total November-Desember tembus 2 juta orang! Rata-rata bulanan biasanya 700 ribu, tapi jelang Nataru lonjakan gila-gilaan.

ilustrasi ai - Realita di Balik Gemerlap Asia Afrika
Gambar di atas merupakan ilustrasi yang dihasilkan oleh AI untuk memberikan gambaran suasana malam tahun baru di Bandung.

Jujur aja, aku termasuk yang ikut nyumbang angka itu dari Jabodetabek. Bayangin, jalanan tambah macet, parkiran resmi full, jukir liar pada semangat 45 getok harga. (Sindiran halus buat diri sendiri: gue yang mager jalan kaki ini pasti ikut berebut parkir di trotoar, eh malah jadi 'donatur' sukarela.)

Fenomena "Bandung Darurat Parkir" dan Mental Wisatawan

Fenomena "Bandung Darurat Parkir" ini kayak bonus atraksi wisata. Kita ke sana bukan cuma mau nikmatin kafe Braga yang Instagramable, tapi juga tes kesabaran: seberapa kuat mental gue kalau dipalak 10-50 ribu cuma buat naruh kendaraan 30 menit di pinggir jalan. Gue orang Jakarta, sabar macet udah level master, tapi sabar bayar parkir mahal? Belum naik level itu, bro. (Humor: kalau parkirnya segitu, mending gue beli batagor sepuluh porsi, kan lebih kenyang daripada dompet kempes.)

Sindiran ini bukan karang-karangan. Di medsos, cerita horor parkir di Braga (viral Rp15.000 motor, mobil Rp.40.000-50.000), Asia Afrika (sidak terbaru), atau Balonggede udah kayak serial horor endless season. Makan di warung legendaris habis 40 ribu, eh "pajak aspal" nyusul bikin nafsu makan lenyap. Gue apresiasi banget Pak Farhan yang tegas sampe sita uang pungli – harapannya ini bukan aksi akhir tahun doang, tapi beneran awal revolusi ketertiban.

ilustrasi ai - Fenomena "Bandung Darurat Parkir" dan Mental Wisatawan
Gambar di atas merupakan ilustrasi yang dihasilkan oleh AI untuk memberikan gambaran suasana malam tahun baru di Bandung.

Buat aku sih sebagai tamu dari luar kota, harapannya cuman liburan nyaman. Namanya liburan nyaman kan bukan cuma makanan mantap atau spot foto kece. Yang penting ada kepastian: bayar parkir sesuai aturan resmi (mobil Rp5.000/jam, motor Rp3.000/jam di kawasan pusat seperti Asia Afrika-Braga), masuk kas daerah, bukan kantong oknum seragam abu-abu. Kalau terus gini, slogan "Bandung Juara Kuliner dan Wisata" bisa berganti jadi "Bandung Juara Getok Parkir" atau muncul "Bandung Darurat Parkir". Sayang banget kalau keramahan mojang priangan ketutup muka tegas jukir liar yang minta duit kayak lagi ngajak debat kusir.

Pak Wali Kota, tolong dong, pas gue dateng nanti, gue cuma mau mikirin beli oleh-oleh brownies atau pisang bolen apa, bukan nego parkir sampe takut jual aksesoris mobil di trotoar Asia Afrika.

Tips Taktis Menghadapi Jukir Liar di Bandung

Tips taktis dari gue yang takut kena getok (biar gue sendiri inget terus):

  1. Senjata utama: Kamera HP. Foto atau video diam-diam kalau transaksi mencurigakan. Kalau jukirnya nggak pakai seragam resmi Dishub atau nggak kasih karcis, itu pungli – bukti kuat buat lapor.
  2. Langsung tanya: "Karcis resminya mana, Kang?" Kalau bilang habis atau tarif spesial libur, tolak sopan aja. Bayar sesuai plang terdekat atau aturan resmi.
  3. Lapor resmi via Lapor Bandung atau IG @dishubkotabandung dan @humas_bandung. Malas ribut di tempat? Foto lokasi + oknum, kirim. Aman dan efektif.
  4. Preventif banget: Parkir di tempat resmi. Basement Alun-Alun atau mal terdekat buat Asia Afrika, Braga Parking Building buat Braga. Jalan kaki 5-10 menit, hitung-hitung bakar kalori sebelum ngunyah gorengan panas.
  5. Darurat: Telepon 112. Kalau merasa diintimidasi atau tarif gila, langsung hubungi call center Bandung – petugas siap bantu.

Titik rawan akhir 2025 ini: Braga (viral pungli), Asia Afrika (sidak langsung), Balonggede (kuliner legendaris), Tamansari (deket kebun binatang), plus Lembang yang paket wajib meski beda kabupaten.

Lingkaran Setan: Pungli vs Kemalasan Gue Sendiri

Jujur nih sambil ngopi pagi, keruwetan kota Bandung sebenarnya nggak cuma oknum jukir. Aku sebagai pengendara yang datang dari luar kota ikut nyumbang besar ke "monster" ini. Gue sering kena sindrom "mager" level akut: mau makan batagor viral, tapi mobil harus parkir persis depan gerobaknya. (Humor: gue Jakarta banget, takut capek jalan 100 meter, padahal tiap hari naik turun MRT aja ngos-ngosan.)

Keinginan parkir deket area kuliner dan wisata kota Bandung yang bikin jukir liar subur. Bayangin aja, kantong parkiran resmi penuh karena lonjakan jutaan wisatawan, logika aku langsung berubah: "Ah, bayar mahal dikit gapapa deh." Padahal tanpa sadar, parkir di trotoar hak pejalan kaki, atau bahu jalan sampe jalur mobilitas menyempit hingga jalan macet satu kecamatan, asal gue nggak jalan jauh.

Ini lingkaran setan klasik: ada demand dari aku yang mau praktis (mager), ada supply dari oknum kang parkir gercep lihat peluang duit masuk. Dengan jutaan wisatawan luar kota datang jelang Nataru, masalah ini makin membesar. Kalau aku terus manja dengan kemalasan ini, Bandung forever darurat parkir. Bayar getok harga sama aja nyiram bensin ke api pungli.

Komitmen Wisatawan Bijak

Pengingat buat gue sendiri (dan temen-en pembaca sekalian):

  • Turunin ego parkir depan pintu. Biasain parkir resmi, jalan dikit aja. Olahraga gratis sebelum makan berat, kan enak.
  • Cek rambu, bukan cek jukir. Jangan parkir di zona larangan meski jukir melambai semangat kayak sambut tamu VIP. Nanti diderek atau digembok, jukir nggak ikut bayar denda ratusan ribu.
  • Naik angkot, ojol, atau Whoosh aja. Zona merah kayak Braga-Asia Afrika? Tinggalin mobil di hotel atau stasiun. Lebih murah, bebas drama nego tarif.

Berhenti jadi bagian masalah adalah cara terbaik nikmatin Bandung lebih tenang. Aku sempat mikir, kalo aku ga bisa jadi pahlawan untuk kota Bandung, minimal jangan jadi penjahat di kota Bandung. Jangan sampai gara-gara mager yang mendarah daging dalam diri aku, malah merusak tata kota.

Aku sih optimis banget sih, dengan sidak tegas Pak Farhan dan lonjakan wisatawan, sudah pasti bikin pemerintah lebih aware, plus kita semua mulai disiplin, Tahun Baru 2026 bisa beneran juara – juara iconik tempat makan enak, jalan-jalan santai, tanpa bonus donasi parkir liar!


🎁 Catatan Penutup: Tips Tambahan Biar Liburan Anti-Drama

Eh, sebelum aku akhiri curhat panjang ini, ada beberapa info kecil tapi penting yang perlu kita update, biar rencana ke Bandung nanti nggak ada drama tambahan selain urusan parkir. Sebagai "kaum mager" yang visioner, persiapan ekstra itu wajib hukumnya!

1. Waspada "Bandung Lautan Gerimis"

Berdasarkan prediksi BMKG, akhir Desember 2025 sampai awal Januari 2026 adalah puncak musim hujan. Intensitasnya bisa sedang sampai lebat, terutama saat sore dan malam hari. Suhu Bandung bakal anteng di angka 19-28°C—sejuk tapi lembap abis.

  • Tips: Siapkan jas hujan, payung, atau jaket waterproof. Jangan sampai outfit kece kamu gagal estetik gara-gara basah kuyup nunggu ojol seperti pengalaman pahitku dulu.
  • Safety: Kalau main ke Lembang atau Ciwidey, waspada kabut tebal dan jalan licin ya!

2. List Event Tahun Baru 2026 yang Pecah!

Bandung tahun ini nggak main-main soal hiburan. Kalau kamu belum punya jadwal, ini beberapa opsinya:

  • Konser Besar: Ada Galactic Love di Summarecon Mall bareng Raisa.
  • Charity & Music: Symphony of Giving bareng Cakra Khan di Harris Hotel Citylink.
  • Vibes Rooftop: Pesta retro di Moxy atau countdown di Vesper Sky Bar buat nonton kembang api dari ketinggian.
  • Gratisan: Kawasan Braga dan Gasibu tetap jadi pusat live music dan keramaian rakyat.

3. Reminder Parkir & Transaksi Digital

Seperti yang aku bahas di bagian Tips Taktis Menghadapi Jukir tadi, usahakan parkir di gedung resmi. Sekarang banyak mal dan kantong parkir di Bandung sudah dukung pembayaran nontunai via QRIS atau e-wallet. Ingat tarif resminya: Mobil Rp5.000/jam dan Motor Rp3.000/jam. Lebih dari itu? Kamu tahu apa yang harus dilakukan (Lapor!).

Kesimpulan: Meski ada drama parkir dan ancaman hujan, Bandung tetap punya magnet yang susah ditolak. Aku sendiri tetap excited, asal mental "mager" ini sudah dikondisikan buat jalan kaki dikit. Semoga kita semua bisa nikmatin batagor hangat tanpa bonus dompet kempes!

🎆 Happy New Year 2026, Guys! Safe travel dan semoga dapet parkir yang aman! 🎆


Sumber Fakta dan Data:

  • Informasi mengenai sidak Wali Kota Bandung (Muhammad Farhan) pada 25 Desember 2025 di kawasan Asia Afrika bersumber dari beberapa laporan media online dan kanal YouTube resmi Humas Kota Bandung.
  • Data tarif parkir resmi mengacu pada Peraturan Wali Kota (Perwal) Bandung Nomor 66 Tahun 2021 tentang Tarif Pelayanan Parkir.
  • Proyeksi lonjakan wisatawan mengacu pada rilis data Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kota Bandung menjelang Nataru 2025/2026.
Terima kasih sudah membaca! Sebagai catatan, foto-foto dalam postingan ini adalah ilustrasi AI untuk membantu Anda membayangkan keseruan acara. Sampai jumpa di Bandung!
Kategori: Bandung, Opini, Tips, Wisata,

Komentar

Jurnal Rasa Mendatang

30 Menu Sahur yang Sehat dan Praktis untuk 1 Bulan: Resep, Tips, dan Persiapan Anti Ribet

Kalau ada momen di bulan Ramadhan yang rasanya seperti lomba sprint saat otak masih di mode buffering, itu adalah sahur. Mata masih berat, langkah masih menyerupai zombie menuju dapur, sementara jam dinding terus berdetak mendekati imsak. Saya tahu rasanya—berpacu dengan waktu demi memastikan keluarga mendapat asupan terbaik sebelum beribadah. Memasak sahur tidak perlu ribet. Yang penting keluarga dapat makanan bergizi sebelum memulai hari. Foto: Rene Terp / Pexels 📘 NAVIGASI CEPAT 30 MENU SAHUR 🌅 Minggu 1: Menu Praktis & Penambah Energi (Hari 1-10) 🥗 Minggu 2: Variasi Sayur & Protein (Hari 11-20) 🍱 Minggu 3: Cepat Saji & Penutup Ramadhan (Hari 21-30) ✨ Tips & Penutup