Blogger Jurnal Rasa (BJR)

Cari

Kamu pernah nggak, niat makan enak tapi malah berasa kayak lagi ikut challenge nyari lokasi rahasia? Itu yang terjadi waktu saya muter-muter cari Warung Ibu Tum Atie. Google Maps bilang “Anda sudah tiba”, tapi yang saya lihat cuma gang sepintas lewat yang lebih mirip jalan menuju rumah tetangga. Tidak ada plang. Tidak ada banner. Tidak ada tanda kehidupan kuliner babi sedikit pun.

Babi kecap dan cukiok di sini, juara

Untungnya dua bapak-bapak yang nongkrong di depan gang langsung nyeletuk, “Mbak cari warung? Masuk aja.” Kayaknya wajah bingung saya sangat mudah ditebak. Dan benar saja, warungnya ternyata di barisan kedua, ketutupan bangunan depan. Hidden gem beneran, bukan sekadar istilah manis.

🏠 Lokasi Unik yang Bikin Penasaran

Begitu melangkah masuk ke gang, suasananya langsung berubah jadi kayak makan di halaman belakang rumah orang. Meja plastik biru, kursi sederhana, sirkulasi udara alami. AC? Tidak ada. Estetik? Nggak usah dicari. Tapi aromanya—wah, itu undangan resmi untuk duduk dan pesan cepat-cepat.

Menemukan kuliner tersembunyi, masuk gang

Begitu menu datang, fokus saya langsung ke dua senjata utama mereka: bakut teh dan cukiok. Mangkok bakut teh mendarat dengan aroma bawang putih dan lada putih yang melesat duluan. Kuahnya bening cokelat, ringan tapi wangi. Daging iganya tebal, nempel di tulang tapi gampang lepas dengan sedikit usaha.

Cukioknya? Tampilan gelap kecokelatan yang mengkilap, aroma rempahnya bikin saya otomatis ngelirik lebih dekat. Teksturnya kenyal-lengket khas kolagen, tapi bukan tipe yang bikin enek. Ini lembut, wangi, dan bumbunya meresap sampai ke inti daging.

😋 Pengalaman Rasa yang Bikin Lidah Nari

Bukannya lebay, tapi bakut teh mereka ini serius. Kuahnya ringan tapi punya karakter kuat. Ada sensasi hangat yang menyebar pelan, dan itu bukan dari MSG, tapi dari kaldu tulang yang dimasak lama. Celupkan sedikit daging ke kecap asin sambal rawit… langsung naik level. Apalagi kalau dicampur cakue, itu kombinasi maut yang bikin saya khilaf.


Cukioknya juga jujur: wangi, empuk, dan punya layer rasa manis-gurih yang stabil dari awal sampai akhir. Saya makan pelan-pelan supaya nggak cepat habis.

🍚 Nasi Premium dengan Teknik Sempurna

Nasi mereka secara mengejutkan enak. Pulen tapi nggak lembek, terpisah rapi, matengnya pas. Mirip nasi restoran Chinese food yang serius soal kualitas beras. Ini detail kecil yang bikin pengalaman makan makin nikmat.

🏚️ Suasana & Pelayanan: Sederhana tapi Ramah

Tempat makan ini beneran sederhana, tapi saya suka cara mereka melayani. Cepat, ramah, dan tanpa banyak basa-basi. Kamu pesan, duduk, sebentar kemudian makanan sudah datang. Rasanya seperti makan di rumah saudara yang baik hati. Saran kecil: kalau butuh toilet, lebih baik ke tempat lain dulu.


🅿️ Akses & Parkir yang Gampang

Meski warungnya ngumpet, parkir mobil justru gampang. Tinggal parkir di ruko seberang, bayar 5 ribu, beres. Tidak ada drama muter-muter cari slot.


⭐ Kelebihan yang Bikin Nagih

  • Rasa bakut teh dan cukioknya mantap.
  • Nasi premium.
  • Harga masuk akal.
  • Parkir gampang.
  • Pelayanan cepat dan ramah.
  • Menunya banyak.

⚠️ Kekurangan yang Perlu Kamu Tahu

  • Lokasi terlalu tersembunyi.
  • Tempat sederhana banget.
  • Ruang makan kecil.
  • Tidak cocok buat nongkrong lama.

📊 Penilaian Saya (Skala 1-10)

  • Visual & plating: 7/10
  • Rasa & aroma: 9/10
  • Tekstur: 9/10
  • Relevansi tren: 6/10
  • Kualitas vs harga: 9/10
  • Suasana & pelayanan: 7/10

Total: 8.2/10

✅ Kesimpulan: Wajib Coba atau Skip?

Menurut saya, ini hidden gem yang beneran hidden. Rasanya jujur, hangat, dan bikin kangen beberapa jam setelahnya. Kalau kamu datang dengan tujuan makan enak, bukan mau foto aesthetic, kamu pasti puas. Datanglah dengan hati siap nyasar sedikit, tapi pulang dengan perut dan hati bahagia.

Jadi… kapan kita balik ke Warung Ibu Tum Atie bareng?

Komentar

Jurnal Rasa Mendatang

30 Menu Sahur yang Sehat dan Praktis untuk 1 Bulan: Resep, Tips, dan Persiapan Anti Ribet

Kalau ada momen di bulan Ramadhan yang rasanya seperti lomba sprint saat otak masih di mode buffering, itu adalah sahur. Mata masih berat, langkah masih menyerupai zombie menuju dapur, sementara jam dinding terus berdetak mendekati imsak. Saya tahu rasanya—berpacu dengan waktu demi memastikan keluarga mendapat asupan terbaik sebelum beribadah. Memasak sahur tidak perlu ribet. Yang penting keluarga dapat makanan bergizi sebelum memulai hari. Foto: Rene Terp / Pexels 📘 NAVIGASI CEPAT 30 MENU SAHUR 🌅 Minggu 1: Menu Praktis & Penambah Energi (Hari 1-10) 🥗 Minggu 2: Variasi Sayur & Protein (Hari 11-20) 🍱 Minggu 3: Cepat Saji & Penutup Ramadhan (Hari 21-30) ✨ Tips & Penutup