Blogger Jurnal Rasa (BJR)

Cari

Siapa bilang mau ngeluarin duit buat makan itu gampang? Di Tenanan Mie Ayam Bakso, kamu mau bayar aja perjuangannya kayak lagi antre bantuan sosial atau pembagian sembako gratis! Saya sampai bela-belain datang dua kali ke sini. Kunjungan pertama buat kenalan, kunjungan kedua buat riset detektif: apakah bakso ini beneran enak atau orang-orang cuma pada hobi gerah-gerahan bareng di jam makan siang? 🍜

[Caption: Bisa kalian lihat sendiri, ini suasana siang hari yang penuh drama. Antrean orang bayar di depan kasir itu kayak keran bocor, nggak berhenti-berhenti! Nasib saya yang makan di sini beneran diuji; saya makan persis di belakang punggung mereka. Jadi kalau kalian ngerasa ada sensasi 'tempel-senggol' pas lagi nyuap, jangan emosi dulu. Di sini, kena senggol sampai kuah tumpah itu risiko jabatan. Makanya, daripada punggung kalian jadi sandaran gratis buat yang lagi antre, mending langsung melipir ke Area 2 di belakang yang lebih manusiawi!]

Setelah saya pantau, rating 4,7 bintang dari hampir 1.000 ulasan di Google Maps itu ternyata bukan hasil konspirasi keluarga si abang. Ada alasan logis kenapa tempat ini selalu penuh sesak, dan hari ini saya bakal bongkar semuanya buat kalian. Siap-siap berkeringat! 💦

[Caption: Inilah menu "Protein Booster" saya hari ini: Mie Bakso Urat dengan topping ceker yang melimpah. Yang bikin saya geleng-geleng kepala bukan cuma ukuran baksonya, tapi kecepatannya. Dari detik saya duduk sampai mangkok ini mendarat di meja, cuma butuh waktu 5 menit! Kayaknya abang-abangnya punya sensor khusus atau mereka pakai sistem pit-stop Formula 1. Cekernya juga bukan cuma pajangan, empuk banget—sekali sedot langsung lepas dari tulangnya tanpa perlu drama perlawanan!]

Kualitas: Bakso yang Punya Harga Diri

Banyak oknum penjual bakso yang bikin bakso gedenya kayak bola tenis tapi isinya cuma harapan palsu. Tapi di Bakso Tenanan, baksonya punya harga diri. Takaran tepungnya pas, nggak tumpah semua ke adonan. Pas digigit, ada sensasi serat daging sapi yang nyata. Kuahnya pun bening tapi rasanya 'berat' karena kaldu sapinya nendang banget.

[Caption: Saking nggak rela rasa "Tenanan" ini hilang begitu saja, saya putuskan buat bungkus dua mangkok lagi. Satu Mie Ayam standar buat yang setia nunggu di rumah, satu lagi Mie Bakso buat jaga-jaga kalau nanti malam perut tiba-tiba demo lagi. Lihat saja potongan ayamnya, nggak pelit dan nggak malu-malu. Dibungkus pun kualitasnya tetap terjaga, meskipun sensasi 'disenggol punggung antrean' nggak ikut masuk ke dalam plastik bungkusannya. Ini namanya oleh-oleh penuh perjuangan!

Oh iya, buat kalian yang mau bungkus, saran saya mienya minta dipisah saja biar nggak mengembang di jalan. Apalagi kalau rumah kalian jauh atau harus melewati kemacetan Jakarta yang legendaris itu. Sampai rumah tinggal tuang, kuahnya masih hangat, mienya pun masih kenyal.]

Layanan: Secepat Kilat di Tengah Kekacauan

Meski suasananya ramai parah kayak pasar tumpah, staf di sini kerja dalam mode fast forward. Saya sempat rekam video abangnya ngeracik bakso (yang rencananya bakal saya upload di YouTube, jadi tungguin aja!). Hasilnya? Pesanan bakso saya mendarat di meja dalam waktu 5 menit saja! Hebatnya lagi, stafnya gercep banget beberes sisa mangkok, jadi kamu nggak bakal duduk di depan tumpukan piring kotor orang lain.

Suasana: Antara Zona "Sauna" dan Zona Damai

Berdasarkan pengamatan lapangan saya, area makan di sini terbagi dua, dan kamu harus pintar pilih posisi:

  • Area Depan (4x8 meter): Ini adalah zona "tempur". Dekat kompor kuah yang selalu mendidih. Kalau kamu datang jam makan siang, selamat menikmati simulasi di dalam oven! Sumpek banget karena uap panas menyatu dengan keringat ratusan orang.
    [Caption: Inilah penampakan 'Medan Perang' yang sesungguhnya. Kalau kalian lihat gang di seberang sana, itulah satu-satunya akses masuk yang sudah dikepung lautan motor. Trotoarnya? Jangan ditanya, sudah penuh sesak sampai mobil pun nggak bakal dapet celah buat sekadar nempel. Berdasarkan pengalaman kunjungan kedua saya di sore hari, jalan raya sekecil ini bakal bertransformasi jadi lautan kemacetan yang 'stuk' parah. Jangankan mobil, saya yang bawa motor saja sampai harus pasrah kejebak macet lama. Jadi, kalau kalian masih nekat bawa mobil ke sini, saya cuma bisa bilang: Selamat menikmati liburan di dalam kemacetan!]

    [Caption: Di tengah segala drama parkir dan kemacetan, ada satu sosok yang selalu ceria: Kang Parkir. Lihatlah senyumannya yang merekah, seolah berkata: "Silakan saja motor keluar masuk kayak semut baris, dompet saya juga ikut tebal seiring ramainya antrean." Ini bukan sekadar kang parkir, tapi CEO kebahagiaan yang tahu betul cara menikmati rezeki dari ramainya Bakso Tenanan. Jadi, kalau ketemu beliau, jangan lupa senyum balik, Bro! Beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bikin motor kamu aman di tengah hiruk-pikuk.]

  • Area Belakang (8x8 meter): Kalau mau aman, larilah ke belakang. Area ini lebih luas, lebih lega, dan yang paling penting: jauh dari uap kompor yang membara itu.
    [Caption: Selamat datang di 'Inner Circle' alias Area 2 di bagian belakang. Jangan tertipu dengan posisinya yang mepet ke arah toilet; lihat saja sendiri, meja-meja di sini tetap penuh sesak kayak lagi ada pembagian BLT! Di sini, aroma kuah kaldu bertarung sengit dengan pintu toilet yang syukurnya tertutup rapat. Tapi ya itulah hebatnya Bakso Tenanan, orang-orang sudah nggak peduli lagi duduk di mana, yang penting mangkok bakso ada di depan mata. Meja penuh, perut kenyang, hati senang, biarpun harus berbagi oksigen dengan puluhan orang lainnya!
    Jadi, kesimpulannya: Area 2 adalah tempat paling 'aman' buat kalian yang mau makan dengan sedikit lebih lega, asalkan kalian siap dengan pemandangan meja yang nggak pernah kosong ini. Kalau sudah sampai sini, tandanya kalian sudah resmi jadi alumni pejuang Bakso Tenanan!]

Tragedi Pencinta Karbo: Nasi Tidak Tersedia!

Satu hal penting buat kalian penganut sekte 'belum kenyang kalau belum kena nasi'. Di sini, lupakan cita-cita itu, karena tidak tersedia nasi. Memang agak berisiko buat kita yang kapasitas lambungnya kayak truk tronton, tapi porsi bakso dan mienya sudah cukup buat bikin perut menyerah. Jangan sampai kalian sudah duduk manis, baru tahu kalau nasinya nggak ada—bisa-bisa galau seharian!

[Caption: Inilah 'Kitab Suci' yang wajib kalian pelajari sebelum maju ke medan tempur. Menunya lengkap banget, dari Bakso yang punya harga diri, Mie Kuah yang menghangatkan jiwa, sampai Mie Goreng dan Mie Yamin buat kalian kaum anti-kuah. Harganya? Tenang, masih sangat ramah di kantong dan nggak bakal bikin kalian harus gadai BPKB motor di parkiran. Saran saya: pilih menu kalian secepat mungkin, karena kalau kalian kelamaan mikir di depan kasir, tatapan tajam dari puluhan orang yang antre di belakang bakal terasa lebih panas daripada kuah baksonya!]

Kesimpulan: Worth It Gak?

Dengan rentang harga Rp 15.000 – Rp 25.000, menurut saya ini sangat sepadan. Kamu dapet kualitas premium yang bikin perut beneran kenyang. Kamu nggak bakal merasa rugi keluarin uang, karena yang kamu dapet adalah kenyang yang berkualitas, bukan begah kebanyakan tepung.

Jadi, sudah siap buat berkeringat demi semangkok bakso tenanan? 🏃‍♂️💨

⚠️ PANDUAN SURVIVAL: JANGAN SALAH BAWA KENDARAAN! ⚠️

Sebelum kalian gas pol ke sini, dengerin saran saya baik-baik biar nggak kena mental di jalan. Lokasi kios Bakso Tenanan ini beneran mepet jalan raya. Jadi buat kalian kaum "Roda Empat", mohon maaf... parkir mobil di depan kios itu adalah sebuah kemustahilan yang nyata. 🚗❌

Kalau tetep nekat bawa mobil, kalian harus parkir di seberang jalan raya (itu pun kalau dewi fortuna lagi baik dan ada slot kosong). Daripada kalian habis waktu cuma buat muter-muter nyari parkir sampai baksonya keburu dingin, mending ikuti saran saya:

  • Naik Motor Saja: Lebih sat-set dan parkirnya nggak drama.
  • Transportasi Umum: Lokasinya strategis banget, tepat di pinggir jalan raya. Turun langsung sampai!
  • Ojol adalah Koenji: Tinggal duduk manis, makan, pulang. Nggak perlu pusing mikir parkir.

💡 CATATAN TAMBAHAN: Kalau kalian mau ke area makan belakang (Area 2), siap-siap "uji nyali" lewat gang sempit. Kenapa? Karena di sepanjang gang itu penuh dengan motor parkir milik pembeli lain. Jangan harap abang parkirnya bakal ngusir motor orang yang lagi asyik makan cuma buat kasih jalan kalian lewat. Jadi, kecilkan perut dan hati-hati jangan sampai kesenggol knalpot panas! 🏍️💨

Kesimpulan: Bawalah motor, atau bawalah kesabaran ekstra kalau nekat bawa mobil!

Komentar

Jurnal Rasa Mendatang

30 Menu Sahur yang Sehat dan Praktis untuk 1 Bulan: Resep, Tips, dan Persiapan Anti Ribet

Kalau ada momen di bulan Ramadhan yang rasanya seperti lomba sprint saat otak masih di mode buffering, itu adalah sahur. Mata masih berat, langkah masih menyerupai zombie menuju dapur, sementara jam dinding terus berdetak mendekati imsak. Saya tahu rasanya—berpacu dengan waktu demi memastikan keluarga mendapat asupan terbaik sebelum beribadah. Memasak sahur tidak perlu ribet. Yang penting keluarga dapat makanan bergizi sebelum memulai hari. Foto: Rene Terp / Pexels 📘 NAVIGASI CEPAT 30 MENU SAHUR 🌅 Minggu 1: Menu Praktis & Penambah Energi (Hari 1-10) 🥗 Minggu 2: Variasi Sayur & Protein (Hari 11-20) 🍱 Minggu 3: Cepat Saji & Penutup Ramadhan (Hari 21-30) ✨ Tips & Penutup