Blogger Jurnal Rasa (BJR)

Cari

Kalau Anda pecinta nasi campur babi, pasti paham sensasi berburu tempat makan yang pas—yang dagingnya banyak, harganya wajar, dan yang penting: rasanya bikin pengen balik lagi. Nah, saya baru saja nyobain Nasi Campur Aliong yang lokasinya strategis di pinggir jalan raya, dan ceritanya... menarik, Friends.

Sepotong besar daging babi panggang yang renyah dan mengkilap digantung di etalase warung makan.



🍖 Porsi Daging vs Nasi

Begitu piring saya datang, mata langsung berbinar. Dagingnya banyak banget! Aneka topping bertumpuk cantik di atas piring—ada char siu yang glossy berlapis madu, lap cheong, telur, dan masih banyak lagi. Si char siu ini jadi salah satu primadona karena teksturnya empuk dan manis gurihnya pas. 

Variasinya bikin mata jelalatan nggak tahu mau mulai dari mana. Tapi tunggu dulu, ada plot twist: nasinya minimalis. Yup, kalau Anda tipe yang suka makan sampai kekenyangan dengan nasi sepiring penuh, siap-siap agak kecewa. Di sini konsepnya lebih ke "daging is the star", nasi cuma pemeran pembantu. Dan sayangnya, nasi nggak free refill, jadi kalau mau nambah ya siap-siap rogoh kocek lagi.

Sepiring nasi putih dengan beragam toping daging babi: babi panggang renyah, babi merah chasiu, dan sosis lapciong.


👅 Profil Rasa: Manis vs Asin

Soal rasa, kuliner nasi campur yang satu ini punya dua karakter dominan: manis atau asin. Saya pribadi lebih suka yang asin karena berasa lebih "nendang". Sensasi manis-gurihnya kuat, terutama dari topping yang dibalut madu—cocok banget buat yang suka profil rasa lebih ke arah manis. Tapi buat yang doyan asin, pasti cocok juga karena ada variasi yang lebih savory.

Enam variasi potongan kecil daging babi yang tersusun rapi di nampan baja dalam etalase kaca display.


Cuma ada satu catatan penting: kalau Anda termasuk kaum "pedas nampol or nothing", sambel di sini kurang nampol. Sensasi pedasnya ada sih, tapi lebih ke level "oh iya ada pedesnya" daripada "astaga lidah saya terbakar". Jadi buat foodies hardcore pecinta pedas, mungkin harus bawa sambal sendiri dari rumah. Atau kalau mau alternative, bisa coba nasi kari mereka yang katanya lebih berempah—meskipun tetap nggak sepedas yang diharapkan para pecandu cabe.

🏠 Suasana & Fasilitas

Area makannya lumayan luas, bisa nampung puluhan orang sekaligus. Tapi karena desainnya agak terbatas, suasananya jadi terasa... intimate? Atau kalau bahasa kasarnya: agak sesak. Bukan yang bikin claustrophobia sih, tapi jangan berharap bisa lesehan santai kayak di restoran luas. Ruangannya pakai kipas angin untuk sirkulasi udara, jadi cukup adem meskipun lagi rame-ramenya.

Tampilan depan ruko Nasi Campur dan Kare Aliong dilihat dari seberang jalan Pademangan pada siang hari.


Oh iya, soal fasilitas: di depan pintu masuk ada tempat cuci tangan, jadi bisa langsung bersihin tangan sebelum makan. Toilet? Saay saya mengamati, tidak ada tulisannya, artinya "tidak tersedia untuk umum", tapi ternyata kalau ditanya baik-baik, mereka punya kok. Jadi jangan malu-malu bertanya kalau kebelet.

🚗 Drama Parkir yang Nyata

Ini dia bagian paling "menantang" dari pengalaman makan di sini: parkir mobil. Lokasi memang strategis di pinggir jalan raya, tapi tempat parkirnya? Good luck, my friend. Kalau lagi beruntung, Anda cuma perlu parkir 3-5 ruko dari tempat makan, jalan kaki sebentar, selesai. Tapi kalau lagi sial, ya... siap-siap keliling dulu. Parkirnya di jalan berbayar, jadi siapkan uang receh buat tukang parkir.



Saran saya: kalau bisa naik motor, lebih praktis. Atau kalau emang bawa mobil, datang pas jam-jam nggak peak supaya lebih gampang dapet parkir.

💰 Harga & Kesesuaian

Dengan harga Rp 50-75 ribu per orang, Nasi Campur Aliong ini sebenernya standar untuk nasi campur babi, tapi kelebihannya jelas di topping yang berlimpah—terutama char siu-nya yang juicy. Makanan saya kasih nilai 5, layanan 4, suasana 3. Waktu tunggu sekitar 10-30 menit, jadi lumayan lah buat makanan yang fresh.



Tapi ada beberapa catatan penting:

  • Vegetarian? Jangan kesini. Ini bukan tempat Anda.
  • Bawa balita? Nggak ada kursi khusus untuk anak kecil.
  • Butuh kursi roda? Sayangnya aksesibilitasnya belum tersedia.
  • Mau kerja sambil makan? Nggak ada WiFi di sini, jadi fokus makan aja deh.

📊 Skor Penilaian Akhir

Kategori Skor Catatan
Kualitas Daging & Topping 🥩 9/10 Char siu glossy, topping berlimpah & premium
Porsi Nasi 🍚 4/10 Terlalu minimalis, tidak free refill
Rasa (Manis/Asin) 😋 7/10 Profil manis-gurih kuat, cocok selera lokal
Level Pedas 🌶️ 3/10 Sambel kurang nampol untuk pecinta pedas
Suasana Tempat 🏠 5/10 Nyaman tapi agak sempit saat ramai
Fasilitas 🚻 5/10 Toilet ada (tanya dulu), cuci tangan OK
Kemudahan Parkir 🅿️ 2/10 Drama parkir nyata, siap-siap jalan jauh
Harga vs Value 💸 7/10 Standar pasar, unggul di topping

Total Skor: 6.6/10

Verdict Akhir

Layak Dicoba Jika: Anda pecinta daging babi dengan topping berlimpah, tidak masalah dengan porsi nasi minimalis, dan datang naik motor untuk menghindari drama parkir.

Skip Jika: Anda tipe yang harus kenyang dengan nasi banyak, pecinta pedas ekstrem, atau membawa rombongan dengan mobil di jam sibuk.

Komentar

Jurnal Rasa Mendatang

30 Menu Sahur yang Sehat dan Praktis untuk 1 Bulan: Resep, Tips, dan Persiapan Anti Ribet

Kalau ada momen di bulan Ramadhan yang rasanya seperti lomba sprint saat otak masih di mode buffering, itu adalah sahur. Mata masih berat, langkah masih menyerupai zombie menuju dapur, sementara jam dinding terus berdetak mendekati imsak. Saya tahu rasanya—berpacu dengan waktu demi memastikan keluarga mendapat asupan terbaik sebelum beribadah. Memasak sahur tidak perlu ribet. Yang penting keluarga dapat makanan bergizi sebelum memulai hari. Foto: Rene Terp / Pexels 📘 NAVIGASI CEPAT 30 MENU SAHUR 🌅 Minggu 1: Menu Praktis & Penambah Energi (Hari 1-10) 🥗 Minggu 2: Variasi Sayur & Protein (Hari 11-20) 🍱 Minggu 3: Cepat Saji & Penutup Ramadhan (Hari 21-30) ✨ Tips & Penutup